Angkatan ke-7 PonPest SULAIMANIYYAH united islamic cultural centre of indonesia
Sabtu, 22 Juni 2013
5 Tips agar : Semangat selalu mengalir dalam dirimu!
1.
Memasang Target
Yang Tinggi
Dalam hal apapun, tetapkanlah
target yang tinggi yang dapat memacu semangat kita. Pasanglah target yang
kelihatannya lebih tinggi dari kemampuan kita, tetapi usahakanlah agar target
tersebut tetap ‘feasible’. Contohnya, saat kita akan menghafal
Al-Qur’an, jika kita pikir kita hanya bisa menghafal 5 lembar dalam sehari,
buatlah target yang lebih tinggi, misalnya 8 lembar dalam sehari, sehingga kita
dapat lebih terpacu dan bersemangat. J
2.
Membaca Buku
dan Artikel Motivasi
Apa yang kita baca akan mempengaruhi pola berpikir
dan tindakan kita. Oleh karena itu, bacalah buku-buku atau artikel yang dapat
memotivasi diri kita agar tetap bersemangat.
3.
Bergaul dengan teman yang Tepat
Teman sangat mempengaruhi kepribadian seseorang.
Bahkan jika ada dua orang kembar identik ditempatkan di lingkungan yang
berbeda, akan menghasilkan dua kepribadian yang berbeda juga. Agar kita tetap
bersemangat, bergaullah dengan orang-orang yang mempunyai semangat yang tinggi.
4.
Lakukan Hobi
Sesibuk apapun, sempatkanlah untuk melakukan hobi kita. Hobi dapat membuat
hidup kita lebih bergairah dan bersemangat.
5.
Berpikir positif
Agar tetap bersemangat, milikilah ‘can-do
mentality’. Kita harus yakin dengan diri kita bahwa kita mampu
melakukan apapun juga asalkan kita mau berusaha.
Tetap Semangat my Sulaimaniyah !!! (˘-˘)ง
-Ibrahim
Sabtu, 23 Maret 2013
MENGAPA RASULULLAH TERSENYUM ??
Ditulis
oleh Agung Kusuma, BIFB Mahasiswa Program Magister Keuangan Islam
Hal
yang menarik adalah kenapa Rasulullah selalu tersenyum, walaupun
beliau dihina dan dicaci maki oleh kaumnya, bahkan ingin dicelakakan
oleh sebagian orang.
Pertama,
Rasulullah mengemban misi yang besar. Masih banyak hal-hal yang harus
difikirkan dan diselesaikan dihadapannya. Masalah ummat dan
penyebaran agama yang menguras banyak tenaga dan waktu harus
dilaksanakannya demi tercapainya hal besar tersebut. Sungguh remeh
apabila Beliau goyah jika ada hal kecil yang menghambat
perjuangannya. Di depan mata Beliau terdapat berjuta planning dan
harapan yang harus dicapainya untuk jangka waktu yang Beliau rancang.
Harapan dan cita-cita harus Beliau tuntaskan bersama para
sahabat-sahabatnya. Apabila masalah kecil itu menggetarkan langkahnya
maka misi agung itu tidak akan tercapailah seperti sekarang ini.
Harapan dan cita-cita Beliau mengalahkan berjuta cercaan dan hinaan
yang dihujamkan kepada insan yang mulia ini.
Kedua, Rasulullah
saw adalah pribadi yang agung. Seorang yang berkepribadian agung
mempunyai jiwa yang besar. Seorang berjiwa besar akan
mudah memaafkan kesalahan orang lain,
karena hatinya yang luas bagaikan samudra. Seperti dikutip dari
perkataan Aa’ Gym jiwa orang yang besar ibarat sebuah lapangan yang
amat luas, apabila terdapat ular dan binatang berbahaya lainnya masih
ada lahan lapangan yang lainnya untuk bergerak, sebaliknya jiwa orang
yang kerdil akan merasakan sesak apabila terdapat sedikit saja
gangguan bagi dirinya, orang lebih sedikit dari dia adalah cobaan
baginya, tersinggung sedikit adalah besar baginya, dan masalah kecil
ia besar-besarkan.
.
Ketiga, senyum
adalah lambang pribadi yang optimis dan positif. Rasulullah adalah
insan yang mulia. Manusia terbaik dimuka bumi ini sejak adanya.
Beliau adalah pemimpin agung. Mustahillah seorang pemimpin itu
mencontohkan kepesimisan. Beliau ingin mencontohkan keoptimisan dalam
menggapai cita-cita bagi seluruh ummatnya. Karena Beliau ingin
ummatnya optimis menggapai cita-cita mereka yang mulia. Dan juga
senyum melambangkan pribadi yang positif, tidak ada gunanya marah
apabila Beliau membalas kejahatan orang Yahudi yang melukainya,
karena itu akan membuang tenaga Beliau saja dan masih banyak tugas
Demikianlah
tatkala seorang buta Yahudi di pinggiran kota Madinah mencaci maki
Beliau, mengatakan Beliau gila, tetapi Beliau dengan santun
menyuapkan kepalan nasi ke mulut orang tua tersebut. Juga kisah
seorang Yahudi yang sengaja menagih uangnya lebih dari waktu yang
mereka janjikan, yang dia sengaja membuat Beliau marah, tetapi beliau
hanya tersenyum. Dan, juga kisah seorang Yahudi yang selalu
meludahkannya pada setiap pagi, tetapi disaat ia sakit ternyata
Rasulullah-lah orang yang pertama kali mengunjunginya.
Sungguh
Muhammad,
Engkau berkepribadian agung.
Jumat, 22 Februari 2013
NASIHAT GURUKU (USTADZ SULAİMAN HİLMİ TUNAHAN (K.S)
- Tetaplah di jalan Allah. Jadilah orang yang tulus dan jujur. Berpegang teguhlah pada kata-katamu. Jika kau ingin berkata/berbicara maka biarkan lidahmu selalu mengeluarkan kejujuran dan kata-katamu adalah kebenaran. Jangan mengingkari janji pada orang yang telah mempercayaimu. Jika kita bisa mempertanggungjawabkan perkataan kita maka itu akan membawa kita menuju surga. Akan tetapi jika kau gagal mempertanggungjawabkannya maka nerakalah balasannya.
- Jadilah orang yang adil. Jangan gunakan tanganmu untuk melakukan kejahatan melainkan lakukanlah kebaikan. Jika pekerjaanmu menggunakan timbangan jangan berbuat curang dengan beratnya, jika menggunakan alat ukur jangan kurangi meteran atau liternya. Orang-orang yang benar/jujur maka akan mempengaruhi seluruh keturunannya dan itu akan membawa kebaikan bagi mereka semua.
- Cintailah kemanusiaan dan jangan memandang rendah siapapun. Jadilah orang yang Tawadhu’(rendah hati) karena perhiasan yang paling berharga adalah ketawadhuan. Di dalam hidupmu hormatilah orang lain tanpa rasa dengki dan cintailah tanpa rasa cemburu. Sebagian manusia menganggap apa yang dimiliki orang lain tidak pantas baginya. Janganlah seperti mereka. Hargailah milik orang lain tanpa rasa cemburu. Karena kita tidak dapat menghadap ke hadirat Allah dengan rasa dengki atau cemburu.
- Jika kamu bekerja sebagai pegawai di pemerintahan maka perlakukanlah orang-orang dengan baik, jangan biarkan mereka yang datang padamu tetap berdiri. Selalu sediakan kursi dan persilahkan mereka duduk. Tanyailah kabar mereka. Bantulah mereka untuk menyelesaikan urusannya. Jangan pernah berkata: “Pergilah sekarang dan datanglah lagi besok!” Selesaikanlah urusan mereka saat itu juga. Jika kau tidak melakukan hal itu maka kelak di akhirat aku akan menuntutmu. Jika kau seorang pegawai dan memiliki seorang atasan maka hormatilah ia tanpa rasa dengki, sayangilah tanpa rasa cemburu.
- Manusia itu ada bermacam-macam tipe. Sebagian ada yang lebih bagus rupanya sementara sebagian yang lain ada yang lebih berbakat. Jangan pernah berkata: “Kenapa bukan aku yang seperti dia?” Karena ini akan mengurangi bahkan apa yang sudah kau miliki. Tetapi jika kau berfikir: “Ya Allah lipat gandakanlah apa yang kumiliki bagi tetangga atau temanku...” maka apa yang kau miliki justru akan berlipat tiga. Jika teman atau tetanggamu itu tidak berfikir hal yang sama maka apa-apa yang sudah menjadi miliknya tidak akan meningkat.
- Jika kau menemui orang yang lebih baik/ lebih akan bermanfaat dari pada dirimu, maka berikanlah jabatanmu padanya. Inilah patriotisme sejati.
- Bersikaplah rajin dan produktif, karena Rasulullah bersabda bahwa bekerja itu adalah ibadah. Putraku... ketahuilah bahwa tanpa tetesan keringat maka sesuatu itu menjadi tidak ada nilainya. Tanamilah ladangmu hingga datang saat memanennya dan berikan sebagian hasilnya pada tetanggamu. Tanamlah pepohonan... yang disebut shadaqah jariyah adalah: mendidik anak yang sholeh, menulis buku yang bermanfaat dan menanam pohon. Dari ketiganya ini yang paling baik adalah menanam pohon. Karenanya daripada kita menanam patung maka adalah lebih baik jika kita menanam tanaman yang hijau dan membuat monumen dari pepohonan.
- Sebuah pohon mulberry hidup hingga 400 tahun, sebatang pohon walnut hidup hingga 700 tahun, sebuah pohon chestnut/berangan bisa hidup hingga 900 tahun dan pohon plane hidup hingga 1500 tahun.
- Di kota Bursa ada banyak pohon plane yang telah berusia hingga ribuan tahun yang ditanam oleh Osman Ghazi dan Orhan Ghazi (Pendiri kerajaan Osmani). Ketika aku belum menikah dahulu setiap tahun kutanam sebatang pohon sekarangpun setelah menikah aku menanam dua pohon satu untukku, satu lagi untuk istriku.
- Ajarkan apa yang kau ketahui. Jagalah kebersihan dan selalu menjadi contoh dalam kebersihan. Seorang intelektual berarti orang yang mendapatkan pencerahan. Ada banyak orang yang bahkan meraih tiga gelar di universitas tetapi karena rasa dengki dan cemburunya ia tidak dapat mengajarkan apapun. Intelektual yang sejati adalah orang yang mengajarkan dan menyampaikan ilmu yang dimilikinya.
- Kebersihan adalah ibadah dan sebagian dari pada iman. Jika ada orang yang mengotori tempat umum(jalan umum) maka segera tutupi atau bersihkan dengan kakimu.
- Setiap harinya, setidaknya buatlah kebaikan pada dua orang, menangkanlah hati mereka. Karena jalan ke surga bisa ditempuh dengan menyentuh hati seseorang. Menyentuh hati seseorang akan membuka pintu surga Firdaus. Dari kelima butir ini yang paling tulus adalah hal ini. Memenangkan hati seseorang sama nilainya dengan mengerjakan 40 kali sholat. Sedangkan mematahkan sebuah hati akan menghilangkan pahala 40 kali sholat. Jika aku bangun setiap subuh aku akan berdoa:”Ya Allah semoga engkau mentakdirkan kebaikan dariku bagi seseorang hari ini.”
- Ketika kau pergi atau pulang setiap harinya, sapalah setidaknya dua orang yang kau temui. Jangan menunggu hingga mereka menyalamimu tetapi salamilah mereka dahulu maka mereka pun akan menyapamu. Tangan yang memberi akan lebih baik daripada tangan yang menerima dan Hati yang memberi akan lebih mulia dari pada yang menerima.
Riwayat Hidup Suleyman Hilmi Tunahan ( K.S.)
Suleyman Hilmi Tunahan adalah daripada keluarga sarjana Islam yang
terkemuka. Datuknya adalah Kaymak Hâfiz dan keluarganya adalah dari
silsilah keturunan Idris Bey yang nasabnya sampai kepada Rasulullah
s.a.w. Di zaman Sultan Muhammad al-Fatih (1444 – 1446 / 1451 – 1481),
beliau mencari orang yang mempunyai nasab keturunan Nabi s.a.w. dan
apabila İdris Bey ditemui, beliau dikahwinkan dengan saudara perempuan
al-Fatih.Idris Bey kemudiannya dilantik sebagai Amir bagi kawasan Tuna dan diberi gelaran Tuna Hanı atau Tunahan. Beliau bertanggungjawab menguruskan hal cukai dan jawatan serta gelaran Tunahan itu kekal kepada cucu cicitnya hinggalah sampai kepada Osman Bey iaitu ayahanda Süleyman Efendi. Osman Bey merupakan tenaga pengajar di Madrasah Satırlı. Suatu ketika, beliau bermimpi yang sebahagian anggota tubuhnya terkeluar dan terangkat ke langit lalu mengeluarkan cahaya. Mimpi tersebut ditafsirkan bahawa akan lahir daripadanya seorang anak soleh yang akan menyebarkan Islam di serata alam.
Osman
Bey kemudiannya berkahwin dan beroleh empat orang anak lelaki iaitu
Fehmi, Süleyman Hilmi, İbrahim dan Halil. Süleyman Hilmi dilahirkan di
bandar Ferhatlar yang terletak di wilayah Silistre, (Bulgaria hari ini)
pada tahun 1888. Pendidikan awalnya bermula di Madrasah Satırlı
bersama-sama dengan adik beradiknya yang lain. Semasa di madrasah
inilah, Osman Bey dapat melihat kelebihan Süleyman Hilmi berbanding
dengan anak-anaknya yang lain. Süleyman Hilmi diberikan perhatian yang
intensif, malah dilayan secara istimewa agar kematangannya meningkat
cergas. Osman Bey sering menyebut, “Silakan wahai anakku, wahai Süleyman
Efendi!”. Ia menimbulkan rasa segan yang amat sangat pada diri Süleyman
Hilmi atas penghormatan yang diberikan oleh ayahandanya walau pun
dirinya masih lagi seorang anak kecil.
Selepas menamatkan
pengajian di Madrasah Satırlı, beliau dihantar ke Istanbul oleh ayahnya
untuk menyambung pengajian. Süleyman Hilmi dibekalkan dengan tiga
pesanan:1.Agar dirinya berjimat cermat dan tidak membazir2.Agar dirinya
berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk menguasai ilmu
al-Usul.3.Mempelajari ilmu Mantiq (Logik) sebaik mungkin sehingga
ilmunya menjadi teguh.
Di
Istanbul, beliau menamatkan pengajiannya di Madrasah al-Fatih, dan
seterusnya di Dar al-Khilafah al-‘Aliyah pada tahun 1913. Kelulusan di
dalam modul kehakiman, telah membawa kepada tawaran perlantikan Süleyman
Hilmi sebagai Kadi di Kastamonu. Hal ini diketahui oleh bapanya, lalu
beliau menghantar surat kepada Süleyman Hilmi yang berbunyi, “wahai
Süleyman, ketahuilah bahawa aku tidak menghantar engkau ke Istanbul agar
engkau berada di dalam neraka!” Lalu bapanya mengingatkan Süleyman
tentang hadith Nabi s.a.w daripada Buraidah yang menjelaskan tentang
tiga Kadi, satu di syurga, dua di neraka. Osman tidak mahu anaknya
memegang jawatan Kadi. Süleyman Hilmi menjelaskan bahawa dia tidak
meminta jawatan tersebut, tetapi hanya untuk mempelajari aspek-aspek
kehakiman agar sempurna penguasaan ilmunya. Osman Bey gembira dengan
penjelasan anaknya Süleyman Hilmi.
Süleyman Hilmi membesar
di Istanbul di dalam suasana negara yang sedang kacau bilau. Semasa
berlakunya rampasan kuasa penggulingan Sultan Abdul Hamid II pada tahun
1909, Süleyman Hilmi masih lagi di bangku pengajian. Dia menentang
sekeras-kerasnya revolusi itu serta sebarang usaha pembaratan yang
dilakukan.
Malang sekali, tidak sampai lima tahun Süleyman
Hilmi beroleh ijazah pendidikannya, bumi Turki ditimpa musibah. Turkish
Grand National Assembly telah dibentuk, Kesultanan dan Institusi
Khilafah dimansuhkan, Sultan Mehmed VI Vahîdeddîn (1918 – 1922)
digulingkan, Republik Turki diisytiharkan penubuhannya, dan akhir
sekali, semua 520 sekolah di Turki telah digabungkan di bawah polisi
pendidikan sekular pada tahun 1924.
Polisi ini telah menyebabkan semua pendidik ilmu Syariah di sekolah hilang pekerjaan. Ramailah yang diserapkan ke jawatan-jawatan lain seperti imam dan penceramah di masjid, malah tidak kurang yang mengambil keputusan untuk bersara. Namun Süleyman Hilmi menolak semua itu kerana baginya, perbuatan itu semua akan menyebabkan bangsa Turki buta Islam dan al-Quran.
Polisi ini telah menyebabkan semua pendidik ilmu Syariah di sekolah hilang pekerjaan. Ramailah yang diserapkan ke jawatan-jawatan lain seperti imam dan penceramah di masjid, malah tidak kurang yang mengambil keputusan untuk bersara. Namun Süleyman Hilmi menolak semua itu kerana baginya, perbuatan itu semua akan menyebabkan bangsa Turki buta Islam dan al-Quran.
Oleh
itu, Süleyman Hilmi bergerak aktif meneruskan aktiviti mengajarnya di
Masjid Sultan Ahmet dan Süleymaniye, Yeni Cami, Şahzade Paşa, Kasim Paşa
dan beberapa masjid yang lain.
Beliau
juga terus menerus memberi peringatan kepada rakan-rakannya agar tidak
takut kepada pemerintah, sebaliknya meneruskan usaha mengajar masyarakat
ilmu Islam. Katanya, “Wahai saudara-saudaraku para guru sekalian,
sesungguhnya kamu hari ini adalah jaminan keselamatan agama di bumi ini
dengan jumlah kita yang melebihi 500 orang. Seandainya setiap seorang
dari kalangan kamu mengajar 3 orang di rumah masing-masing, kita sudah
boleh melahirkan 1500 orang yang memperolehi tarbiah Islam. Dengan
jumlah itu, Allah akan memanjangkan umur Islam sekurang-kurangnya 50
tahun akan datang dan ia adalah usaha untuk satu atau dua generasi.”
Seruan
Süleyman Hilmi itu telah menaikkan semangat para guru dan mereka telah
menulis surat kepada kerajaan menyatakan kesanggupan mereka untuk
mengajar tanpa gaji memandangkan negara yang belum pulih dari menanggung
perbelanjaan perang. Surat mereka telah dibalas dengan surat pekeliling
kabinet Atatürk yang menyebut, “Telah diputuskan penerimaan polisi
penyatuan sekolah. Maka sebarang aktiviti yang bercanggah dengan
keputusan ini akan dikenakan tindakan yang sekeras-kerasnya”.
Ini
telah mencetuskan bibit-bibit hitam di dalam perjalanan seorang guru
yang amat cintakan profesyennya, Süleyman Hilmi Tunahan. Dia telah
memulakan aktiviti mengajar anak-anak muridnya secara rahsia kerana
merasakan dirinya berdosa di hadapan Allah jika berhenti. Namun tiada
siapa yang berani untuk menjadi anak muridnya, bimbang diketahui oleh
rejim Atatürk. Süleyman Hilmi tidak berputus asa, sebaliknya beliau
memulakan pengajian itu dengan mengajar kedua-dua anak perempuannya di
rumah, supaya mereka boleh mengajar suami dan anak masing-masing.
Usaha
mendapatkan anak-anak murid bagi Süleyman Hilmi bukanlah suatu usaha
yang mudah. Namun dia tetap cekal lantaran kecintaan dan komitmennya
yang mendalam terhadap pendidikan. Seandainya ada anak muridnya yang
jatuh sakit, Süleyman Hilmi akan membawa sendiri budak itu berjumpa
dengan doktor, dan dibayar dengan duit beliau sendiri, agar anak-anak
murid terus bersemangat tinggi berkhidmat untuk Islam. Beliau adalah
bapa yang penyayang dan guru yang murabbi. Anak-anak muridnya datang
dari segenap ceruk kampung Anatolia yang fakir dan miskin tetapi
kemudiannya pulang ke kampung masing-masing sebagai seorang insan yang
berhemah tinggi.
Strategi Süleyman Hilmi Tunahan di dalam meneruskan profesyen perguruannya adalah seperti berikut:
Strategi Süleyman Hilmi Tunahan di dalam meneruskan profesyen perguruannya adalah seperti berikut:
1.
Sentiasa Bertukar Tempat. Di suatu hari, beliau mengajar anak-anak
muridnya di bilik Muazzin di Masjid Şahzade Paşa dan pada hari yang
berikutnya beliau mengajar di rumah salah seorang anak muridnya di
penjuru Istanbul. Kadang-kadang beliau membawa anak muridnya ke
celah-celah bangunan usang, atau di bilik-bilik bawah tanah di bangunan
yang ditinggalkan. Pernah beliau berkata kepada anak muridnya, “Apa yang
penting ialah dakwah kita berjaya, kerana itulah kita tidak kisah
dengan nasib diri masing-masing. Kita menerima sahaja seandainya tempat
kita adalah di tempat orang meletak kasut di majsid. Aku mengajar kamu
dan aku pindahkan kamu dari satu tempat ke satu tempat seperti kucing
yang menggendong anaknya”. Itulah Süleyman Hilmi Tunahan.
2.
Mengambil Upah Bercucuk TanamAl-Imam Süleyman Hilmi Tunahan mengambil
upah bercucuk tanam bersama anak muridnya di ladang. Di waktu siang
mereka memakai pakaian peladang dan bercucuk tanam. Manakala selepas
tenggelam matahari, mereka akan memulakan sesi pengajian secara yang
tersembunyi. Apabila kedudukan mereka dikesan oleh pihak polis, mereka
akan membawa kitab masing-masing berpindah ke tempat lain, sama ada di
ladang-ladang mahu pun di celah pergunungan.
3. Menghantar
Anak Muridnya Ke Merata Tempat Untuk Persediaan DakwahSüleyman Hilmi
Tunahan sentiasa menggalakkan anak-anak muridnya supaya merantau dan
membuka pusat-pusat pengajian al-Quran di sana. Katanya, “pergilah kamu
semua ke kampung halaman masing-masing dan bukalah Dar al-Quran serta
asrama pelajar di sana. Ajarkan anak-anak umat Muhammad s.a.w. Kitab
Allah dan agama-Nya. Jika kamu laksanakan ini semua, aku lepaskan kamu.
Seandainya tidak, akan kugenggam leher kalian!”Pada tahun 1949, kerajaan
telah membuka kembali sekolah agama hasil tekanan yang dikenakan oleh
umat Islam di Turki. Apabila Parti Demokrat mendapat mandat memerintah
pada tahun 1950, aktiviti-aktiviti Islam kembali aktif. Terkabullah pada
masa itu impian Süleyman Hilmi dan beliau dapat mengajar semula secara
sempurna. Pada masa itu, masjid-masjid sudah tidak berimam, malah jika
ada berlaku kematian, jenazah menanti di masjid untuk disembahyangkan.
Di zaman derita itulah Süleyman Hilmi terus gigih berbakti.Sekolah
menghafal al-Quran dan pendidikan bermanhajkan metodologi al-Imam
Süleyman Hilmi Tunahan akhirnya ditubuhkan secara rasmi pada tahun 1952.
Kehidupan
yang penuh derita dan sengsara ketika mengajar dan membesarkan
anak-anak muridnya, menjadikan Süleyman Hilmi menderita fizikal
badannya. Pada 16 September 1959, al-Imam Süleyman Hilmi Tunahan pulang
kepada Allah ketika merah Maghrib melabuh tirai. Pengerusi Parlimen pada
masa itu, İbrahim Kırazoğlu meminta supaya jenazah Süleyman Hilmi
dikebumikan berhampiran makam moyangnya Sultan Muhammad al-Fatih dan
cadangan itu mendapat kelulusan Perdana Menteri.
Keesokan
harinya orang ramai mula membanjiri perkarangan Masjid Sultan Muhammad
al-Fatih. Akan tetapi pihak polis telah mengeluarkan arahan agar jenazah
Süleyman Hilmi tidak dikebumikan di Masjid Sultan Muhammad al-Fatih.
Pihak polis menggali sendiri kubur di kawasan Karacaahmet dan akhirnya
jenazah al-Imam Süleyman Hilmi Tunahan dikebumikan di situ. Benarlah
seperti yang pernah disebutkan oleh beliau pada suatu hari, “mereka akan
takutkan kematian kita sama seperti mereka takutkan kehidupan kita”.
Langganan:
Postingan (Atom)




